Thursday, October 1, 2015

KESABARAN

KESABARAN

Salah satu aspek dari Emotional Intelligence adalah kemampuan menghadapi masalah secara matang dan stabil emosinya. Di bawah ini salah satu contohnya.

Beberapa bulan yang lalu, saya melihat kejadian menarik di meja pemesanan kamar hotel Memphis. Saya belajar bagaimana menghadapi orang yang penuh emosi. Saat itu pukul 5 sore pegawai hotel sedang sibuk mendaftar tamu-tamu baru. Orang didepan saya memberikan namanya kepada pegawai di belakang meja dengan nada memerintah.

Pegawai tersebut berkata, “Ya, Tuan, kami sediakan satu kamar ‘single’ untuk anda.”
“singgle?” bentak orang itu, “saya memesan double.”

Pegawai tersebut berkata dengan sopan, “Coba saya periksa sebentar.” Ia menarik permintaan pesanan tamu dari arsip kemudian berkata, “Maaf, Tuan, Telegram anda menyebutkan single. Saya akan senang sekali menempatkan anda di kamar double, kalau memang ada. Tetapi semua kamar Double sudah penuh.”

Tamu yang berang itu berkata, “Saya tidak peduli apa bunyi kertas itu, saya mau kamar double.” Kemudian ia mulai bersikap “Anda tau siapa saya?” diikuti dengan “saya akan usahakan agar anda dipecat. Anda lihat nanti. Saya akan membuat anda dipecat.”

Dibawah serangan gencar, pegawai muda tersebut menyela, “Tuan, kami menyesal sekali, tetapi kami bertindak berdasarkan instruksi anda.”

Akhirnya sang tamu yang bener-bener marah itu berkata, “Saya tidak akan mau tinggal di kamar yang terbagus sekali pun di hotel ini, sekarang manajemennya bener-bener buruk,” dan ia pun keluar.

Saya menghampiri meja penerimaan sambil berpikir pegawai pasti marah setelah baru saja dimarahi habis-habisan. Sebaliknya, ia menyambut semua itu dengan sangat ramah.

“Selamat malam, Tuan, “salamnya seperti ketika ia sedang mengerjakan kegiatan rutin seperti biasanya dalam mengatur kamar untuk saya.

Saya berkata padanya, “Saya mengagumi cara anda mengendalikan diri tadi, Anda bener-bener sabar.”

“Ya, Tuan, “katanya, “Saya tidak dapat marah kepada orang seperti itu. Anda lihat, ia sebenernya bukan marah kepada saya. Saya Cuma korban pelampiasan kemarahannya. Orang yang malang tadi mungkin baru saja ribut dengan istrinya, atau bisnisnya mungkin sedang lesu, atau barangkali ia mersa rendah diri, dan ini pelung emasnya untuk melampiaskan kemarahannya.” Pegawai tadi menambahkan, “Pada dasarnya mungkin ia orang yang sangat baik. Kebanyakan orang begitu.”

Sambil melangkah menuju lift, saya mengulang-ngulang perkataanya, “Pada dasarnya ia mungkin orang yang sangat baik. Kebanyakan orang begitu.” Ingat dua kalimat itu kalau ada orang yang menyatakan perang kepada anda. Jangan membalas, cara untuk manang dalam situasi seperti ini adalah membiarkan orang tersebut melepaskan amrahnya dan kemudian lupakan.


0 comments:

Post a Comment